Minggu, 22 Agustus 2010

sharing sharing bego

We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.

-Anonymous

Sebenarnya, gagalnya suatu hubungan dikarenakan berbagai factor. Entah itu factor yang logis maupun tidak logis.

Factor yang logis: putus karena si pacar selingkuh.
Factor yang tidak logis: putus karena pacar gak mau ngejaitin baju kita yang sobek karna kekecilan.

Tapi, kalo dengan hubungan gue? Gue sendiri juga gak tau berakhirnya hubungan gue dengan ‘pujaan sekolah’ itu disebabkan alasan yang logis atau enggak sama sekali.

PUTUS KARENA DIA TERLALU SIBUK. GUE MERASA TERABAIKAN.

Andai suara gue sebagus Agnes Monica, gue pasti udah nyanyi lagunya yang berjudul Teruskanlah. Tapi sayang, suara gue lebih pantes dimiripin sama burung beo lagi bengek.

Ada satu kata yang kayaknya jadi api pembakar hubungan gue: SIBUK.

“Aku lagi ada seminar nih, ngewakilin sekolah. Kita jalannya minggu depan aja ya… kalo aku lagi gak sibuk…,” katanya di seberang telpon.

“Iya. Aku tunggu sampai kamu gak sibuk,” jawab gue.

Klik. Telpon ditutup olehnya. Gondok.

Kata gak sibuk itu seolah cuma sebagai penyejuk hati gue sesaat aja. Gak sampe satu jam, hati gue gerah lagi. Gue baru inget, dari pagi ternyata gue belom mandi.

Setelah gue bertapa berhari-hari di sebuah gunung-yang-gak-tau-apa-namanya-dan-gue-sendiri-gak-yakin-itu-adalah-gunung, gue mendapatkan sebuah kesimpulan dari hubungan gue yang sangat singkat ini. Yak, hanya bertahan 3bulan 10hari.

Kesimpulan:
1. Seorang PANJI ADRIAN KUSUMO yang gue kenal selama ini adalah seseorang yang independen, dan sangat belum siap untuk menjalin sebuah relationship, dengan seorang lawan jenis tentunya.
2. Ketidaksiapan Panji terbukti dari dua hal: 1) dari cara dia pdkt yang terkesan terburu-buru; 2) dari sikap dia ke gue yang notabene adalah pacarnya.
3. Gue juga belom siap mendapatkan seorang cowok-beken-super-mega-giga-sibuk-banget.
4. Gue terlalu menuntut untuk diberi perhatian. Sedangkan gue meminta perhatian kepada orang yang… ehm, salah.
5. Kami berdua sama-sama kurang mengerti satu sama lain.

Status seorang bukanlah hal yang penting untuk dipertimbangkan menjadi seorang pacar. Dia adalah seseorang yang hobi gentayangan di berbagai organisasi. Semestinya dia tau, bahwa mempunyai seorang pacar, sama aja kayak berorganisasi. Diperlukan sebuah komitmen. Dan itu jelas sekali terlihat, bahwa Panji kurang terikat terhadap komitmen tersebut.

Sekarang, rasa gue yang dulunya mengagumi dia, kemudian berubah jadi naksir, lalu naik menjadi rasa sayang… udah ludes diserempet sama rasa ketidaknyamanan dan kesendirian. Kalo gini jadinya, ya gak usah pacaran. Iya gak?

Dia pengen gue mengerti kesibukan dia, dan gue pengen dia mengerti keadaan gue. Mungkin ini yang ingin dijelaskan oleh Putu Wijaya dalam sajakanya…

Sebetulnya aku ingin menyapamu tiap hari. Tapi sudah banyak kali terjadi sapaan yang rajin, selalu tidak dihargai. Bahkan cenderung diremehkan. Jadi kutahan-tahan diri menyapamu, padahal karena itulah kau ragu.


Kisah gue dan Panji inilah yang mungkin bisa menjadi gambaran gimana rasanya jadi pacar yang kaga dianggap. Dibilang ada pacar, tapi ngerasa jomblo. Dibilang jomblo, tapi gue ada pacar. Jadi, buat apa gue ada di sini?

Terima kasih atas semua momen indahnya, Panji. Dan maaf aku selalu meragukan hubungan kita atas nama kamu. Ini yang terbaik buat kita.

Dan setelah ini, gue merasa ada yang hilang dari kehidupan gue. Sesuatu yang abstrak. Entah itu apa namanya. Gue harus rela. Titik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

foto gembel bersamanya ;)

foto gembel bersamanya ;)
ini diambil di kantin sekolah pas acara kartinian