Minggu, 19 September 2010

how i hate arabian guy

Jav sangat antusias sekali dengan hubungan gak jelas gue dan Harun. Tiba-tiba nongollah pacarnya Jav, si Asta.

Udah terlanjur ada Asta, dan memergoki gue dengan Jav ngobrol soal percintaan gue, akhirnya gue ceritain juga ke Asta. Bertambahlah satu manusia di muka bumi ini yang tau hubungan gue.

Asta (A): Lho? Bukannya dia baru putus seminggu yang lalu, ya?

G: Oh, ya? Sama siapa?

A: Sama pacarnya. Gue lupa namanya siapa. Harun kan tetangga gue, ya gue tau-tau gitu deh.

Jav dan Asta memang kompak banget. Mereka ngedukung gue mati-matian buat bisa jadian sama Harun. Kebetulan Jav temen les Harun, dan Asta adalah tetangga satu RT sama Harun.

Gue me-warning Jav dan Asta untuk gak memberitahu siapa-siapa dulu. Dengan ancaman, jari tangannya bakal gue golok.

Dua minggu PDKT berjalan, masih belom banyak yang tau mengenai hubungan ini. Gue dan Harun memang menutupinya dari publik. Kalo gue nyetel tipi, trus gue pindahin ke channel infotainment, dan itu gak ada berita tentang gue dan Harun, selamat lah dunia akherat.

Besoknya gue baru nyadar, gue bukan artis, dan gue aja gak masuk ke ekskul film. Gak beken-beken amat.

Sabtu ini gue dan Harun janjian nonton bareng di sebuah mal deket sekolah. Gue dijemput dengan mobilnya.

Sambil nunggu film dimulai, kita jalan-jalan nyari tempat nongkrong. Kita memilih foodcourt.

Pas gue lagi lahap menyantap es krim dengan brutal, tiba-tiba si Harun teriak, “Diana!” sambil melambai tangan.

Itu dia, seorang cewek berambut sebahu, lebih pendek dari gue, putih, dan kurus. Memakai baju warna pink, rok pendek selutut. Itu dia, dia Diana.

Setelah gue kucuek-kucek mata, yang gue liat itu bener Diana. Diana adalah temen SMP gue.

“Lo kenal sama Diana?” tanya gue ke Harun.

“Iya, dia mantan gue yang kemaren,” jawab Harun mantap. Mengejutkan.

Diana menghampiri gue dan Harun. DUDUK SATU MEJA BARENG KITA.

Gue, sang kacang busuk.

“Sama siapa, Di?” tanya Harun ke Diana. Dia senyum gugup.

“Sendirian aja, lagi nunggu temen. Kalian jadian?” kata Diana keheranan, kok bisa gitu ya, mantannya yang super ganteng mau jalan sama cangcorang?

“Enggak,” gue dan Harun sigap menjawab.

“Ooooohh.”

Diana pun pergi sama temen-temennya. Gue dan Harun tetep pada sirkuit awal, nonton bioskop.

Tapi Harun kebanyakan bengong. Omongan pun jadi gak nyambung. Elaaaah, kenapa jadi gini, nih?

Malam setelah nonton, hape gue sepi dari sms Harun. Yang ada dering telepon dari Jav.

“Gimana tadi nge-date-nya, dul?” kata Jav di seberang telpon.

“Lumayan…,” jawab gue.

“Lumayan gimana? Eh, dia nembak lo, yah?”

“Jah.. dapet darimana lo berita gituan?”

“Yeeeee dia malah balik nanya. Bener apa enggak?” Jav sudah mengambil ancang-ancang mau ngebacok gue.

“Enggak,” jawab gue seadanya.

“Lho? Dia bilang tadi pagi ke gue, katanya bakal nembak lo. Hari ini juga?”

“Apaan? Abis balik nonton ini aja, dia udah gak ada sms gue lagi. Dia gak bales sms gue, mau gue telpon eh gue inget pulsa gue gak ada. Heheheh,” jelas gue.

“Dia lagi capek kali.”

“Maybe.”

Besoknya, gue ceritain apa yang terjadi di mal saat gue dan Harun hendak nonton, ke Asta dan Jav.

Mereka kaget bukan kepalang. Jav hampir semaput mendengarnya *lebay abis*

Asta pun berniat untuk membantu gue, menyelidiki si Harun.

Dua hari tanpa sms dan telpon dari Harun, gue merasa ada sesuatu yang dia sembunyiin dari gue.

Dalam dua hari itu juga, Asta melakukan penyelidikan. Tentu saja bareng pacarnya, Jav.

“Rin, maaf. Lo harus menerima kenyataan…,” kata Asta tiba-tiba.

“Apa?”

“Harun balikan lagi sama Diana. Tadi pagi.”

Jeger. Gedubrak. Kampret. What the f*ck.

Guys, gimana perasaan lo saat udah diberi harapan sama seseorang, tapi tiba-tiba harapan itu dicabut seenak jidat? Tanpa konfirmasi dari kita? Gerilya. Diam-diam.

Kesimpulan1: Harun telah memberi harapan besar ke gue. Gue merasa PDKT yang telah gue dan dia lalui ini ujung-ujungnya bakal berkahir dengan hubungan yang jelas: JADIAN.

Kesimpulan2: Harun dan Diana terlibat CLBK

Kesimpulan3: Harun pengecut abis.

Kesimpulan4: gue cuma sebagai ‘jeda’ hubungan Harun dan Diana.

Kesimpulan5: Jav dan Asta pantes jadi pasangan detektip masa depan.

Gue udah lumayan banyak berharap pada Harun. Dia mengisi kekosongan gue, saat gak ada Panji. Harun belom rela sepenuhnya berpisah dengan Diana. Begitu pula dengan Diana, dia belom bisa menerima kenyataan Harun punya gebetan baru.

Pertempuran hati antara Gue-Harun-Diana yang terjadi Sabtu kemaren jadi penanda, “Gue gak bisa terus sama Harun.”

Biarin aja lah si arab itu sama mantan pacarnya. Gue gak berhak buat melarang mereka saling tertarik, saling suka, maupun saling sayang. Gue bukan siapa-siapa.

Lupakan aku, kembali padanya…aku bukan siapa-siapa untukmu

Kucintaimu tak berarti bahwa ku harus memilikimu selamanya…

Gak ada satu orang pun yang berhak melarang seseorang untuk jatuh cinta, melarang seseorang untuk mencintainya, atau malah melarang dirinya sendiri untuk jatuh cinta kepada orang lain.

Ini hanya masalah waktu. Waktu yang gak kita duga, mempertemukan kita dengan seseorang yang gak kita duga juga.

Ini juga masalah perasaan. Mungkin si Harun gak tega mau ngomong ke gue, bahwa dia lebih memilih mantannya itu ketimbang gue. Tapi andaikan dia mau ngomong, gue bakal berusaha rela melepaskan seorang Harun yang selama dua minggu ini gentayanagn di hidup gue.

Gue bukanlah orang satu-satunya yang terlibat situasi kancut kayak gini. Di luar sana, gue tau banyak juga orang yang mengalami seperti ini. Dideketin, trus diberi harapan besar, lalu itu orang hilang begitu aja. Merasa gak punya salah ya, Mas?

e-mail from: harun_theblack@xxxx.com

Rin, maaf banget gue gak ada sms lo atau nelpon lo lagi. Gue pengen kita jaga jarak. Gue balikan lagi dengan Diana. Maaf, Rin. Gue tau lo pasti kecewa banget sama gue. Diana ngajakin balikan duluan. Gue gak bisa nutupin, gue masih pengen sama dia. Thanks udah ngertiin gue, Rin :)

e-mail dari lo udah gak berarti apa-apa buat gue, Run.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

foto gembel bersamanya ;)

foto gembel bersamanya ;)
ini diambil di kantin sekolah pas acara kartinian